67670_4_123_516lo

26 Desember

“In vijftien minuten, zullen wij bij Parijs aankomen…”
Merinding bulu kuduk saya ketika tour guide mengumumkan dalam bahasa Belanda bahwa bus yang saya tumpangi akan tiba di tujuan dalam waktu 15 menit. Keletihan tubuh karena 8 jam duduk di bus dikalahkan oleh keinginan melihat kota yang begitu diagung-agungkan oleh para pecinta yang romantis: Paris!

Sebelumnya, sekalipun di dalam mimpi, saya tidak pernah membayangkan akan berada di sini. Krisis ekonomi di Indonesia yang meluluh-lantakkan karir dan kehidupan saya, ternyata membelokkan alur perjalanan hidup saya.

Saya mengalihkan pandangan saya keluar, terlihat beberapa pesawat di Charles de Gaulle airport. Tanpa saya sadari, mobil yang lalu lalang di highway A1 yang berawal dari Belgia ini bertambah banyak. Perhatian saya segera tertuju ke apartemen-apartemen yang kini berserakan di pinggiran highway. Tidak terlihat adanya perumahan, ciri khas kota metropolitan.

Steve, William, dan Agung teman kuliah saya yang berasal dari Singapore, Malaysia dan Indonesia juga terdiam menunggu tibanya bus tersebut di hotel yang akan didiami selama empat malam. Kemacetan di jalan raya semakin bertambah, apalagi ketika bus keluar dari highway dan menuju jalanan yang lebih kecil. Dengan tidak sabaran saya memperhatikan jam tangan saya yang sudah menunjukkan pukul 16:45. Di ufuk barat, mentari musim dingin mulai menyembunyikan dirinya.

“Come on, lets go out for nice dinner…” Steve yang sekamar dengan saya mengajak makan malam. Memang, perut saya yang kosong sudah meminta sesuatu buat dicerna. Siraman air hangat sewaktu mandi menghilangkan keletihan tubuh saya dan mengantinya dengan perasaan lapar.

Berjalan kaki, kami menyusuri kota Paris. Kota ini begitu istimewa, keramaian dan kemacetan jalannya mengingatkan saya pada London. Tetapi design bangunan dengan ukiran dan patung-patungnya sangat mencolok dan berbeda. Hampir setiap bangunan mempunyai ciri khasnya masing-masing dan begitu indah.

Sebuah Chinese restaurant di Boulevard Montmarte menarik minat kami. Perut-perut yang keroncongan akhirnya berteriak kegirangan ketika nasi dan beberapa lauk menganjalnya. Memang perut Asia kami lebih menikmati nasi dibandingkan roti.

Dengan tambahan energy dari makanan, perjalanan menyusuri kota Paris dilanjutkan kembali. Di sepanjang jalan Boulevard Montmarte ini hadir toko yang banyak menjual parfum, pakaian dan makanan. Louis Vuitton, Giorgio Armani, Christian Dior, dsbnya seakan-akan berlomba memamerkan produk-produk terbarunya.

“Eh, Hard Rock Café Paris!” seru William tiba-tiba, “Lets have some drinks.”
Segelas Southern Comfort memberikan kehangatan kepada tubuh saya. Duduk berempat di café yang masih sepi, kami membicarakan keindahan kota yang menakjubkan ini.

Selesai minum, kami berjalan keluar melalui toko yang menjual sourvenir Hard Rock. Tertarik oleh kaos hitam special edition café tsb, saya mengantri di belakang dua orang cewek yang lumayan manis. Perhatian saya segera tertuju ke mereka ketika mereka mengobrol. Mereka menggunakan bahasa Indonesia! Aneh rasanya mendengar bahasa tersebut di tempat yang begitu jauh.

“Hallo, dari Indonesia ya?” sapa saya ramah.
Mata kedua gadis di depan saya terbelalak, kaget.
“Iiiyaaa…” jawab gadis yang berdiri di depan saya. Tubuhnya yang kecil tertutup oleh jaket tebal berwarna hitam. Rambutnya yang pendek dicat merah dan matanya yang bulat terlihat jernih.

Perkenalan pun berlanjut, gadis tersebut bernama Diana dan temannya bernama Elisabeth. Sungguh enak mengobrol menggunakan bahasa yang sudah lebih dari satu tahun tidak pernah saya pakai. Alangkah sayangnya, pertemuan sekitar 10 menit tersebut harus berakhir ketika mereka berjalan meninggalkan café tersebut bersama teman-teman mereka. Entah karena suasana Paris yang romantis, atau kerinduan akan cewek setanah air, atau karena mata Diana yang bulat dan jernih, jiwa saya seakan-akan terbang bersama mereka. Saya termenung melihat mereka menghilang di keramaian kota.

Bodoh! Goblok! Kenapa tidak meminta nomor telepon? Atau e-mail? Penyesalan datang melingkupi diri saya sesudah pertemuan tersebut. Perasaan menyesal ini semakin menggelora ketika keesokan harinya saya mengunjungi menara Eiffel. Seandainya saja saya bisa menikmati keromantisan kota Paris bersama Diana. Seandainya…

Sang Pencipta ternyata mengasihani jiwa yang penat menahan dahaga kasih sayang ini. Di bawah Eiffel tower Sang Pencipta menunjukkan kekuasaannya. Diana bersama temannya berdiri di salah satu kaki Eiffel Tower, menunggu kesempatan untuk naik ke menara tersebut. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Segera saya membeli empat tiket yang berharga total 180 franc dan ikutan mengantri.
“Diana…” panggil saya, “Ketemu lagi!”
“Ehh… kamu…” dia kaget. Tetapi dari sinar matanya saya tahu kalau dia juga merasa senang. Dan ini membuat jiwa saya melayang-layang.

Pembicaraan akrab berlanjut kembali. Diana dan teman-temannya kuliah perhotelan di Switzerland. Dia sudah lebih dari 3 tahun di sana dan ini adalah tahun terakhirnya. Teman-temannya berasal dari sekolah yang sama, cuma beberapa dari mereka masih berada di tingkat pertama atau kedua.

Saya berusaha selalu berdekatan dengan Diana, dan mengenalnya lebih jauh. Jangan mau kehilangan dia lagi… bisik hati saya. Di lantai dua Eiffel Tower kami berfoto bersama. Saat mempunyai kesempatan berdua, saya berbisik di telinganya, “Semalaman saya memikirkan kamu.” Matanya yang bening menatap saya dan dia berbisik lirih, “Saya juga.” Ingin rasanya saya berteriak dan melompat kegirangan.

“On the romantic Seine’s river bank, the lovers go hand by hand.”
Perjalanan menggunakan kapal menyusuri sungai Seine melewati 22 jembatan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Dari kapal yang kami tumpangi, kami bisa melihat pasangan yang sedang mabuk cinta bergandengan tangan dan berciuman di tepi sungai yang membelah kota Paris tersebut.

Bulu kuduk saya merinding ketika kami melewati gereja Notre Dame yang terkenal dengan cerita The Hunchback of Notre Dame-nya. Bangunan yang persis sama dengan bangunan di film kartun yang saya tonton. Di sebelah saya Diana terlihat termenung, entah apa yang sedang dipikirkan.

“When you pass this oldest bridge in Paris, close your eyes and make your wish. It will come true.”
Saya menutup mata saya dan diam-diam menyatakan harapan saya. Diana juga menutup matanya dan menyatakan harapannya. Seandainya saja saya tahu apa yang dia minta, akan saya penuhi apapun keinginannya.

Melalui jalan mendaki menuju gereja Sacre Coeur, saya mencoba memegang tangan Diana yang tertutup sarung tangan merahnya. Dia tidak menolak! Di sebelah saya Steve terlihat akrab dengan Elisabeth. Mereka bercanda dengan mesranya. Memang, di kota ini cinta mudah sekali bersemi.

Jam baru menunjukkan pukul 17:30, namun mentari sudah bersembunyi di peraduannya. Dari halaman gereja berwarna putih yang terletak di atas bukit ini, saya kehilangan kata-kata saya. Di depan saya terpampang kota Paris dengan lampu-lampunya yang berwarna-warni, begitu menakjubkan. Dari kejauhan terlihat Eiffel Tower yang terang benderang. Saya memberanikan diri untuk memeluk tubuh Diana. Pelukan yang tidak saya lepaskan sampai kami kembali ke kamar hotel mereka.

Saya berbaring di kasur sambil melanjutkan pelukan saya. Lengan Diana melingkari leher saya dan kepalanya menyender di dada saya. Di kasur sebelah saya Steve dan Elisabeth sedang bercanda mesra.

Kekuatan cinta saya membuat saya berani mencium pipinya, tanpa mempedulikan Steve dan Elisabeth. Diana cuma tersenyum misterius. Ciuman saya kemudian berlanjut ke bibirnya yang merah merekah. Terasa bibirnya yang sedikit kering karena dinginnya angin musim dingin.

Kegilaan kami bertambah ketika Elisabeth memadamkan lampu kamar. Dari sinar yang masuk lewat jendela, saya bisa melihat mata Diana yang sendu. Seperti magnet, bibir saya kembali tertarik ke bibirnya, saling berpagutan dengan mesranya. Perlahan Diana menarik selimut menutupi tubuhnya. Saya menganggap tindakan dia sebagai undangan untuk melakukan hal yang lebih jauh. Saya ikutan menyusup ke dalam selimut.

Jari-jari tangan saya mulai bergerilya menyusuri sepasang gunung Diana yang masih tertutup sweater. Usaha mencari puncak gunung tersebut agak terganjal oleh tebalnya sweater dan bra yang masih dikenakannya. Namun kekenyalan gunung tersebut membuat tangan saya betah bermain di sana, meremas dan meremas.

Kemudian tangan saya menyusup ke balik sweaternya dan menyusuri kulit perutnya yang mulus menuju dadanya. Dengan lincah jari tangan saya menyusup ke branya. Ketika ujung gunung kembarnya tersentuh, tanpa ampun jari-jari tangan saya bermain di sana.

Jari tangan Diana ternyata tidak tinggal diam. Kedua tangannya beralih ke ikat pinggang saya dan berjuang melepasnya. Jari tangannya yang cekatan berhasil melepas ikat pinggang saya diikuti celana jeans dan celana dalam saya. Ketika terlepas, saya menendang celana tersebut keluar. Batang kemaluan saya yang terkekang berjam-jam segera berontak menunjukkan kekuatannya.

Belaian tangan Diana membuat batang tersebut mencapai kekerasan dan ukuran maksimumnya. Tidak sabar, Diana membuka sendiri celana jeans dan celana dalamnya. Sesudah itu dia berbaring membelakangi saya, sepasang pinggul montok dan mulus menekan batang kemaluan saya, menan- tang dia untuk bertindak lebih lanjut.

Dengan tubuh masih tertutup selimut, jari tangan saya menuju daerah kemaluannya. Terasa oleh tangan saya rambut yang keras dan pendek. Rupanya rambut tersebut dicukur! Jari tangan saya akhirnya bermain di daerah klirotisnya, memutar dan kadang menggosok dengan cepat. Sekali-kali jari tangan saya masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya.

Mata saya beralih sebentar ke kasur sebelah. Steve dan Elisabeth rupanya tidak mau kalah, terlihat tubuh mereka yang juga tertutup selimut saling menindih.

Akhirnya saya menggerakkan batang kemaluan saya yang sudah tidak sabar menuju rongga fovaritnya. Dari belakang saya mencoba memasukkan batang tersebut, lumayan susah. Dengan tuntunan tangan Diana, akhirnya batang tersebut berhasil menyusuri goa kewanitaannya yang sudah basah kuyub. Cengkraman otot liang kewanitaan Diana pada batang kemaluan saya membuat saya memejamkan mata. Saya menggerakkan batang kemaluan saya, keluar masuk, keluar masuk. Jari tangan saya masih bermain di daerah klitorisnya.
“Ahhhh…” terdengar desahan Steve. Rupanya dia sudah mencapai pulau kenikmatan bersama Elisabeth.

Sekitar 5 menit kemudian, Diana menjerit histeris tanpa mempedulikan kehadiran Steve dan Elisabeth di ruangan tersebut. Satu badai kenikmatan sudah dilalui.
“Kamu di atas ya…” bisik Diana dengan nafas terengah-engah.
Saya mengambil posisi di atas, Diana dan kembali memasukkan batang kesayangan saya. Kegiatan keluar masuk yang tidak pernah membosankan tersebut kembali berlanjut. Goyangan pinggul Diana menambah kenikmatan yang saya rasakan. Tanpa kami sadari, selimut yang menutupi tubuh kami terbuka memamerkan kekekaran tubuh saya dan sepasang buah dada Diana yang menjulang indah. Saya membungkukkan tubuh berusaha menjangkau puncak gunung tersebut dengan lidah saya. Karena tubuh saya yang jauh lebih tinggi, saya tidak berhasil melakukannya.

Tiba-tiba terasa ada kepala di samping saya. Saya tercegang, rupanya Elisabeth sudah berdiri di sebelah tubuh Diana. Matanya yang sayu menatap wajah Diana. Perlahan dia mendorong tubuh saya ke atas dan dia menggerakkan mulutnya yang munggil ke gunung kembar Diana. Dia menjulurkan lidahnya dan bermain di sana. Diana membuka matanya yang tersenyum. Dia membelai rambut Elisabeth!

Gila! Kata pertama yang melintas di kepala saya.
Peduli Amat! Kata kedua yang membuat saya memutuskan untuk jalan terus.

Saya memperbaiki posisi saya, tangan saya menahan sepasang kaki Diana yang tertekuk membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhnya dan dengan posisi berlutut saya memasukkan batang kemaluan saya setelah sebelumnya menganjal pinggulnya dengan bantal.

Selanjutnya hujaman batang kemaluan saya semakin ganas, sementara lidah Elisabeth masih bermain di dada Diana. Tidak terlukiskan dengan kata teriakan histeris Diana saat itu. Teriakan Diana, pemandangan lidah Elisabeth yang sedang bermain di buah dadanya Diana, dan perasaan sayang yang menggebu-gebu membuat saya tidak bisa bertahan lama walaupun segala teknik menahan ejakulasi sudah saya keluarkan. Akhirnya batang kemaluan saya menumpahkan cairan putihnya di dalam tubuh Diana.

Tetesan air mata mengantar perpisahan kami berpisah di tanggal 30 Desember 2000. Saya kembali ke Amsterdam dan dia kembali ke Swiss. Sampai saat ini, harapan saya saat melewati jembatan tertua di kota Paris tidak terpenuhi. Sebenarnya harapan saya adalah, “Hidup berbahagia bersama Diana selamanya!”

“Saya tidak pernah bisa mempercayai lelaki kembali. Tiga tahun lalu di sini, Paris, saya menyerahkan milik saya yang paling berharga kepada pria yang sangat saya sayangi. Ternyata dia penipu, dia sudah beristeri. Luka tersebut meninggalkan bekas yang sangat dalam dan tidak ada satu lelakipun yang bisa menyembuhkannya, saya berbahagia bisa bertemu dengan kamu.”

“Diana… Diana… mengapa kamu tidak mau memberikan kesempatan kepada saya? Akan saya buktikan bahwa tidak semua lelaki itu bangsat! Cinta memang mengakibatkan luka, namun luka tersebut hanya bisa disembuhkan kembali oleh cinta.” Cuma itulah yang bisa ucapkan ketika membaca mail terakhirnya.

Para pembaca saya tunggu komentarnya, silakan kirim via e-mail.
TAMAT

Sebenarnya kejadian ini terjadi 6 tahun yang lalu, tepatnya bulan November 1994, tetapi kejadian itu tak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku.

Saat itu aku masih sekolah kelas 3 di STM Negeri di Solo. Saat itu aku bertemu dengan kawanku saat SMP. Dia sebenarnya adalah cinta pertama bagiku yang yang saat itu belum pernah aku ungkapkan walaupun sebenarnya aku tahu diapun juga mencintaiku sebut saja namanya Novi. Waktu itu kami bertemu di sebuah emperan toko daerah Coyudan. Kami sama-sama berteduh karena saat itu hujan mengguyur kota Solo sangat deras. Kami ngobrol panjang lebar dan angka arlojinya sudah menunjukkan pukul 6 sore, tetapi hujan tetap saja mengguyur walaupun tidak terlalu deras. Karena saat itu dia sedang menunggu bis, dan aku naik sepeda motor maka agar tidak kemalaman aku antar dia pulang tetapi tanpa jas hujan.

Sampai di rumahnya ternyata rumahnya dalam keadaan kosong karena keluarganya sedang menghadiri pesta pernikahan pamannya.
“Aduh.. gimana nih Vi.. bisa masuk ke dalam nggak?”, tanyaku.
“Tenang, biasanya kuncinya ada di bawah pot ini, nah ini dia, masuk yuk di luar dingin, lagian baju kamu basah semua”, katanya sambil membuka pintu rumah.
“Sebentar aku ambilkan handuk”, katanya sambil jalan ke belakang rumah.
Rumah yang sederhana tetapi sangat rapi dengan sofa ditengah ruangan.

Dia keluar dengan menggenakan daster kuning transparan. Samar-samar aku lihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sangat sempurna membuat jantungku berdebar kencang. Kulitnya yang putih mulus terlihat sangat serasi dengan daster yang dipakainya. “Ini handuknya”, dia memecahkan lamunanku. Karena baju dan celanaku basah maka aku buka bajuku dan aku pinjam salah satu kaosnya, tetapi bagaimana dengan celana panjangku? “Pake punyaku aja Fa, aku punya jeans basic yang mungkin pas kamu pakai”, sahutnya. Aku tidak kaget karena dia tergolong cewek bertubuh tinggi besar.

Aku masuk ke dalam kamarnya dan mulai membuka celana panjangku, tinggal CD-ku yang masih basah.
“Vi.. sorry nich aku boleh pinjem CD-mu nggak? Yang penting dapat dipakai”, tanyaku.
“Boleh, tapi di almari coklat yang kuncinya masih aku bawa, boleh aku masuk?”, sahutnya.
Saat dia masuk kamar, aku hanya dililit selembar handuk bergambar Hello Kitty kepunyaannya. Saat dia membuka almarinya dia menyuruh aku untuk memilih sendiri, dan karena letak CD-nya ada di bagian bawah, aku harus jongkok. Tanpa aku sadari setelah aku berdiri, handuk yang melilit tubuhku terlepas dan aku hanya bisa diam terpaku. Dia juga diam memandang tubuhku yang telah telanjang bulat. Dia terus memandang penisku yang memang telah berdiri. Kemudian dengan perlahan dia mengambil handuk yang berada persis di bawah penisku. Kemudian tanganku mengusap kepalanya dan kepalanya tertahan tepat di depan penisku. Selanjutnya dia mencium kepala penisku, membuatku semakin kelabakan. Dia terus mencium penisku dengan lembut dan penuh perasaan, bisa aku rasakan itu.

Kemudian dia berdiri dan giliranku menjilat bibirnya yang sangat lembut, dan diapun membalas dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Untuk beberapa saat aku menikmati bibir dan lidahnya, aku lanjutkan permainan lidahku di sekitar telinganya, aku kulum telinganya, dia hanya bisa medesis kegelian. Aku lanjutkan dengan mencium dan menjilati sekitar lehernya.

Aku mulai membuka resliting daster yang berada di belakang dan dengan perlahan aku tanggalkan daster kuningnya. Sekarang hannya tinggal BH dan CD-nya saja yang tersisa. Perlahan aku ciumi dan gigit payudara bagian atas sambil tanganku berusaha melepaskan BH-nya. Dia hanya terdiam dan terpejam menikmati gigitan lembut bibirku. Setelah BH-nya terlepas terlihat sepasang bukit yang sangat indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Begitu putih, lembut, kencang, padat dan kedua putingnya berwarna coklat masih bersembunyi di dalam pucuk payudaranya. Perlahan aku usap lembut kedua payudaranya dan aku hisap puting susunya agar mau keluar dan aku kulum lembut putingnya. Dia hanya bisa mendesis keenakan. Karena capek berdiri, aku tidurkaan dia di atas ranjangnya sambil mulutku terus menghisap kedua puting susunya secara bergantian dengan lembut.

Selanjutnya ciuman dan jilatanku aku lanjutkan ke bawah menuju pusar dan paha bagian dalam. Dia lagi-lagi hanya mendesis, “Akh.. Fa.. aku nggak tahan..”, desisnya.
Mendengar itu aku semakin bersemangat menjilati paha, lutut, betis dan jemari kakinya aku kulum sehingga dia semakin kelojotan menahan nikmat, terus aku kulum jari-jari kakinya yang putih bersih sambil tanganku mulai melepaskan CD-nya.

Saat CD-nya terlepas, terlihat kemaluannya yang telah berbulu agak lebat. Perlahan aku raba daerah paha dan kemaluannya sambil kulanjutkan mengulum jari kakinya. Aku temukan klitorisnya terasa lunak dan agak basah, aku pilin-pilin daging kecil tersebut dia semakin mengerang menahan nikmat. Lidahku mulai bergerak dari jari kaki menuju betis, paha dan akhirnya pada daerah sekitar kemaluan. Walaupun kulitnya putih bersih, tetapi daerah kemaluannya berwarna coklat. Aku angkat kedua pahanya dan lidahku mulai menuju daerah duburnya, sesaat kemudian ke daerah vagina yang saat itu terasa basah dan berasa agak asin serta berbau khas menambah nafsuku semakin menjadi.

Aku menghisap lendir yang keluar dari vaginanya dan kukeluarkan di sekitar klitorisnya, dan klitorisnya pun aku hisap-hisap. Tanpa kuduga kedua pahanya menjepit kepalaku yang saat itu sedang menikmati gurihnya klitoris dan tangannya menekan kepalaku agar aku menghisap lebih dalam lagi. Saat itu aku merasakan dia menegang dan seperti menjerit, “Akh.. uh..”, teriaknya. Aku tak tahu apa yang sedang dia rasakan saat itu, kemudian lidahku aku pindah ke bawah tepat pada liang vaginanya ternyata pada liang vaginanya telah keluar cukup banyak lendir yang selanjutnya kuhisap dan kutelan sampai habis.

Dia mundur sehingga terpaksa aku lepaskan hisapanku. “Fa.. naik sini..”, dia menarikku yang saat itu masih jongkok dan menyuruhku tidur telentang di ranjangnya. Aku ditindih dan mulutnya mulai mengulum bibirku, seperti tidak mau kalah denganku, diapun menghisap dan mengulum telingaku terasa geli dan hangat. Dia lanjutkan dengan menghisap puting susuku, sambil tangannya meremas-remas penisku. Tanpa aku duga mulutnya mulai bergerilnya di sekitar paha dalamku, terasa sangat geli dan menambah kenikmatan. Lidahnyapun mulai menyapu duburku, “Okh..”, aku setengah berteriak, ya ampun.. nikmat sekali. Sepertinya dia tahu yang aku rasakan saat lidahnya menyentuh sekitar duburku, dan sekitar 5 menit lamanya dia menyapukan lidahnya di sekitar duburku, dan selanjutnya naik menuju pangkal penisku. Dia jilat pangkal penisku sampai ke ujung kepala penisku berulang-ulang sampai aku rasakan seluruh bulu-bulu tubuhku merinding.

Selanjutnya dia memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya sambil sesekali dihisap, tetapi sayang dia tidak dapat mengulum lebih dalam lagi. Karena aku sudah tidak kuat menahan nikmat, maka aku minta dia untuk tidur telentang dan perlahan aku letakkan kepala penisku di depan lubang vaginanya. Aku gesek-gesekkan kepala penisku pada lubang vagina sampai aku temukan lubang yang benar untuk memasukkan penisku. Setelah aku rasa tepat perlahan aku tekan penisku agar dapat masuk ke dalam lubang vaginanya. Dia memejamkan mata seolah sedang menahan sesuatu, aku tak tahu pasti. Terasa sangat sempit dan agak susah memasukkan penisku sampai pada kira-kira setengah panjang penisku Novi berteriak, “Aakhh..”, aku menahan tekanan penisku dan aku lihat darah segar telah mengalir dari vaginanya aku lanjutkan takananku sampai seluruh penisku tenggelam dalam vagina yang telah banjir darah dan kutahan penisku di dalamnya.

“Sakit Vi?”, bisikku.
“Nggak apa-apa lanjutin aja Fa.. aku menikmatinya kok”, dia balas berbisik.
Aku mulai mengayun-ayunkan penisku keluar masuk vagina, terasa sangat nikmat dan hangat tetapi kulit penisku terasa agak perih.

Kira-kira 5 menit aku mengayunkan penisku dan kelihatannya Novi mulai menikmatinya, dia goyang-goyangkan pinggulnya dan kupercepat ayunan penisku sampai suatu ketika Novi berteriak, “Akh.. oh..”. Novi memejamkan matanya dalam-dalam. Tidak lama setelah itu akupun mulai merasakan kesemutan di kepalaku dan, “Ccreet..”, maniku keluar tetapi masih di dalam vaginanya. Dia memelukku erat dan berkata, “Fafa.. aku sayang kamu..”. Aku tidur di atasnya tetapi penisku masih berada di dalam vagina yang lama-kelamaan keluar sendiri karena mulai melunak, terasa agak geli jika penis yang lunak masuk dalam vagina.

Aku terbangun dengan tubuh masih telanjang bulat ketika suara telepon berbunyi, aku lihat jam pukul 10 malam. Aku bangunkan Novi yang masih tertidur tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya agar mengangkat telepon yang ternyata dari keluarganya dan berencana akan pulang besok siang. Jadi aku gunakan malam itu untuk tidur semalam dengan Novi tanpa selembar kainpun menutupi tubuh kami.
TAMAT

Saya seorang Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di kota M dengan panggilan Edwin. Tiga tahun yang lalu saya sehabis pulang kuliah belanja ke sebuah Toko Serba Ada yang lumayan besar di Kota M ini, karena saya seorang anak kost belanjanya juga disesuaikan dengan kantong anak kost yaitu Mie Instant dan soft drink kesukaan saya. Setelah beres keliling Toserba tersebut saya mulai antri di kassa. Sampai di kassa saya di layani oleh seorang kasir yang manis dengan body yang ramping dengan ukuran yang sangat proporsional di tambah kulitnya yang mulus dan kuning langsat, rambutnya di potong tidak terlalu pendek sehingga sangat jelas kelihatan sekali jenjang lehernya, umurnya kira-kira 30 thn. Kasir tersebut menghitung belanjaan saya yang tak banyak itu kemudian saya bayar semuanya kebetulan di saku banyak uang receh seratusan. Saat di kasih ke kasir dia nyeletuk, ” Wah anak Kost yah..?”, sambil tersenyum manis menatapku.
“Iya Mbak nih…, anak kost, mentang-mentang belanjaannya kayak gini sama duitnya receh Mbak langsung tahu saya anak Kost Makasih…, Mbak”, jawab saya sambil pergi meninggalkan kassa tak lupa juga membalas senyumnya.

Dua hari kemudian saya kembali ke tempat itu lagi, dengan harapan ketemu kasir yang cantik itu dan untuk belanja Mie dan Soft drink lagi, setelah saya melihat-lihat di luar, kasir tersebut ada, saya masuk untuk membeli Mie dan Soft drink setelah selesai langsung ke kassa yang ditempati kasir yang manis tersebut, baru sampai di depannya dia sudah ngomong, “Eh ini yang kemarin yach..?, “tanyanya.
“Lho Kok tau sich”, aku menjawab.
“Dari Belanjaanya tuh..!”, jawabnya lagi. Sambil Dia menghitung belanjaan dan kebetulan antrian masih kosong dia bilang.
“Mau lagi nggak saya kasih satu lagi coca-colanya..?”.
“Bener Nich mau ngasih saya..?”, jawab saya.
“Bener saya mau ngasih satu khusus buat anak Kos”, dia jawab sambil tertawa kemudian dia menyuruh teman kerjanya yg lain untuk mengambil minuman tersebut lantas saya bayar sambil memberi dia sebuah voucher di Cafe Gaul terkenal.
“Ini…, buat Mbak…, kalo Mbak mau..”.
“Iya saya mau..”, jawab dia.
Kemudian dia memberi saya no telepon, “Ini no telepon dan nama saya.., telepon yah..”.
“Oh…, Namanya Mbak Retno, nanti saya telepon dech..!”, saya menjawab sambil meninggalkan tempat itu.

Sekitar Jam tujuh malam saya telepon Mbak Retno setelah ngomong ngalor-ngidul dia bilang tidak ada siapa-siapa di rumah. Saya ajak Mbak Retno untuk makan malam kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari kost saya. Saya janjian untuk ketemu di perempatan jalan yang sudah kami tentukan. Setelah bertemu, kami langsung belanja makanan di Warteg dan terus ke rumah kost saya dan masuk ke kamar saya. Selama kita makan hanya cuman ngobrol-ngobrol saja sampai kemudian dia minta pulang karena takut orang tuanya sudah datang, tak lupa juga saya janji mau menjemput Mbak Retno besok sore sehabis pulang kerja buat minta bantuin tugas kuliah yang belum selesai.

Besoknya Jam 17.00 saya jemput dia di tempat kerjanya langsung ke rumah kost kemudian saya menyiapkan beberapa lembar Draft tugas yang mesti Mbak Retno tandai pakai stabillo, selama saya dan Mbak Retno menggambar, kita saling becanda mengomentari hasil kerja masing-masing. Saya mengambil stabillo yang di pegang Mbak Retno sambil berkata, “Udah…, ah istirahat dulu sudah banyak tuh draft yang udah kamu tandain”.
“Tanggung…, dikit lagi nih”, jawab dia sambil mencoba merebut stabillo. Tanpa di sadari saat mencoba merebut stabillo buah dada Mbak Retno menepel pada dada saya yang pada waktu itu duduk saling berhadapan, karena Mbak Retno tak berhasil merebut stabillo dari tangan saya kita saling bertatapan saling memandang diam seribu bahasa.

Secara Naluriah tanpa disuruh saya dan Mbak Retno saling mendekatkan mulut masing-masing sampai kemudian bercumbu dengan hebatnya dan bergantian mengulum lidah. Tangang kanan saya mulai meraba-raba buah dada Mbak Retno yang ukurannya sedang-sedang saja, kemudian saya membaringkan Mbak Retno di tepat tidur. Saya remas-remas buah dada Mbak Retno bergantian sampai dia mengerang, “Edwin…, nikmat…, Edwin terusin egh…, egh”. Mendengar erangannya saya makin bernafsu untuk meramas buah dada Mbak Retno,

Setelah puas meremas buah badanya, saya buka pakaian dan BH yang dipakainya, setelah terbuka langsung saya menjilati, menyedot, memilin kedua puting susunya yang di rasakan sangat nikmat sekali.
“Ah…, nikmat sekali…, ayo terus”, Mbak Retno mendesah, Saya sesekali mengigit mesra puting dan bagian susu yang lainya sampai merah. Mbak Retno tampak menikmati apa yang saya lakukan terlihat dari matanya yang merem-melek dan erangannya yang semakin keras juga pantatnya terlihat menggelinjang dan menggoyang-goyangkannya seperti orang yg sedang bersetubuh walaupun badan saya tertelungkup di pingir badan Mbak Retno. Saya semakin bernafsu dengan menjilati bagian badan yang lainnya seperti perut dan pusar sampai semua bagian itu sudah tidak ada yang terlewati.

Kemudian jilatan saya diteruskan ke kemaluannya terhenti sejenak karena Rok dan celana dalamnya masih terpakai, saat mau kubuka Mbak Retno berkata dengan Lirih, “Edwin jangan…, Edwin…, jangan”, aku tidak peduli dengan rintihannya, dengan sedikit memaksa aku berhasil membuka rok dan celana dalamnya, saya jilati bagian clitorisnya. Tak bisa di tahan lagi Mbak Retno mengelinjang dan menggoyang-goyang pantatnya semakin hebat dan semakin cepat. melihat tingkah Mbak Retno yang semakin tidak terkendali saya buka baju dan celana saya, kemaluan saya yang sejak tadi menegang terus sudah tidak sabar ingin dimasukan ke lubang kemaluan Mbak Retno. Ketika mau di masukkan, Mbak Retno menahan batang kemaluan saya dengan tangannya sambil berkata, “Jangan Edwin…, jangan…, jangan”, saya sempat berpikir sejenak nih anak bahasa tubuh sama mulutnya lain sekali, mulut bilang begitu tapi tubuh tetap mengelinjang dan mengoyangkan pantatnya.

“Mbak Retno…, nggak apa-apa sayang…, saya pinjam lubang Mbak sebentar aja..”, akhirnya dengan sedikit rayuan tersebut Mbak Retno mau menuntun kemaluan saya untuk dimasukkan ke Lubang kemaluannya. Setelah masuk semuanya Mbak Retno sedikit merintih, “Enak…, Edwin”, tanpa di komando Mbak Retno langsung mengoyang pantatnya sementara saya di atas memberi kesempatan Mbak Retno untuk dapat menikmatinya. Setelah beberapa menit Mbak Retno tampak kelihatan mau orgasme terlihat dengan mencengkram keras badan saya dan goyangannya makin cepat, juga kemaluannya yang semakin mencengkram kemaluan saya, “Erggg…, hh”, Mbak Retno pindah mencengkram pantat saya dengan sangat kuat, kemudian berhenti mengoyangkan pantatnya.

Kini bagian saya yang mengoyangkan pantat…, maju mundur…, maju mundur. Kemaluan Mbak Retno mengeluarkan bunyi, “Plok…, plok…, plok…, plok”, karena adanya gesekan kemaluan saya dengan kemaluan Mbak Retno yang telah basah oleh cairan yang keluar dari Lubang kemaluan Mbak Retno, sementara Mbak Retno hanya terengah-engah dan mengoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tak lama kemudian saya oragasme, “Crot…, crot…, crot”, cairan mani saya keluar memenuhi lubang kemaluan Mbak Retno. Saya terengah-engah dan tertelungkup menindih badannya dengan sejuta tanda tanya di kepalaku, “Gimana kalo si Mbak Retno ini penyakitan, gimana kalo si Mbak Retno ini hamil, Gimana kalo si Mbak Retno ini ngajak kimpoi”, itulah beberapa pikiranku saat itu.

Kemudian Mbak Retno mengusap keringat di kening saya dengan tissue yang ada di meja sebelah tempat tidur. Mbak Retno berkata, “Kamu cape sayang..?”, saya mengangguk kemudian mengelus-ngelus rambutnya, terlihat di matanya ada air mata yang meleleh.
“Kenapa kamu nangis sayang..?”, tanyaku.
“Saya mau berterus terang sama kamu Edwin..” Mbak Retno menjawab dengan air mata yang masih meleleh.
“Saya sudah pernah menikah…, Edwin..”.
“Apa…!”, jawabku agak sediikit kaget.
“Trus suami kamu kemana..?”, saya bertanya.
“Suami saya telah meninggalkan saya tanpa tanggung jawab tujuh tahun yang lalu..”, jawabnya sedih.
“Udah punya anak…?” tanyaku, Mbak Retno menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya yang masih meleleh. Masih dalam keadaan bugil saya dan Mbak Retno ngobrol banyak tentang keadaannya, dari situ saya tahu Mbak Retno kimpoi muda karena kecelakaan sama cowok yang tidak bertanggung jawab sehingga dia mengorbankan kuliahnya di fakutas sastra pada salah satu Kampus Negeri Terkenal di kota SB karena orang tuanya tidak menyetujui perkimpoiannya dan suaminya itu tidak menafkahinya. Setelah ngobrol panjang saya dan Mbak Retno bermain seks sekali lagi tanpa takut dia hamil, karena Mbak Retno mengunakan alat kontrasepsi ketika suaminya masih ada, kemudian Mbak Retno dan saya mandi berdua di kamar mandi yang menyatu dengan kamar kost dan saya mengantarkanya pulang.

Setelah kejadian itu saya dan Mbak Retno sering melakukan seks di kost saya sampai sekarang, apabila saya udah horny tinggal telepon sama dia, begitu juga bila dia ingin ngesex. Mbak Retno suka dateng mengunjungi rumah kost saya, sampai pada akhirnya karena Mbak Retno perhatian, ketulusanya, sayang dan setia banget sama saya juga servisnya di tempat tidur yang hebat sekali saya bilang “I Love U ” pada Mbak Retno. Saya sudah bisa menerima masa lalunya dan sekarang Mbak Retno jadi pendamping saya sampai kini, entah nanti.
TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s